Shopping cart
Your cart empty!
Budi, seorang pengusaha kuliner asal Surabaya, awalnya hanya mengandalkan penjualan sambal botolan melalui sistem titip jual di warung-warung lokal
Selama mengikuti pelatihan di MSD, Budi mempelajari berbagai dasar digital marketing, mulai dari riset kompetitor, pemahaman perilaku konsumen, hingga optimalisasi media sosial. Pengetahuan tersebut kemudian ia terapkan secara bertahap melalui strategi konten yang terstruktur, antara lain:
High-Quality Photography: Menampilkan tekstur dan tampilan sambal yang menggugah selera untuk menarik perhatian calon pembeli.
Storytelling: Mengangkat kisah resep warisan keluarga sebagai nilai autentik yang membedakan produknya dari kompetitor.
Targeted Ads: Memanfaatkan Facebook dan Instagram Ads untuk menjangkau pecinta kuliner pedas di berbagai wilayah Indonesia.
Pendekatan ini membantu Budi membangun citra merek yang lebih kuat sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen.
Dalam waktu relatif singkat, brand Sambal Mak Nyuss milik Budi mengalami peningkatan permintaan yang signifikan. Jika sebelumnya produksi hanya mencapai sekitar 50 botol per minggu, kini jumlah tersebut meningkat hingga 500 botol per minggu untuk memenuhi pesanan dari berbagai daerah, termasuk luar pulau. Budi mengungkapkan bahwa pemahaman mengenai teknik copywriting dan strategi closing yang diperoleh dari MSD berperan penting dalam meyakinkan pelanggan baru untuk melakukan pembelian.
Kisah Budi membuktikan bahwa produk tradisional memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar yang lebih luas apabila dikelola dengan strategi digital yang tepat. Pelatihan di PT Media Sarana Digitalindo memberikan fondasi yang kuat bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan daya saing, memperluas jangkauan pasar, dan naik kelas di era digital.